Oleh: purlescpy | 18 Juni 2011

Sisi Lain Pulau Kelor

Bagi masyarakat yang pernah berkunjung ke pulau Bidadari, pulau Onrust, ataupun  pulau Cipir, kemungkinan akan sempat pula mengunjungi pulau Kelor bila mereka beruntung, tapi kunjungan ke pulau Kelor ini kadang tidak otomatis terlaksana karena berbagai faktor. Letaknya yang agak berjauhan dengan 3 pulau (Bidadari,Onrust dan Cipir), terbatasnya alat transportasi ke lokasi, ditambah lagi tidak menentunya ombak dari dan menuju pulau tersebut yang kadang-kadang berobah secara ekstrim ketika hari mulai menjelang tengah hari dan sore hari, sehingga ombaknya tiba-tiba besar dan dapat mengombang-ambingkan perahu yg lewat. Kondisi ini tentu membuat cemas khususnya bagi pengunjung yang baru pertamakali ke pulau Kelor. Alasan inilah yang kadang menghalangi pengunjung menginjakkan kaki ke pulau yang unik ini. Bagi yang beruntung berkesempatan mengunjungi pulau Kelor, selama perjalanan laut menuju pulau ini pasti penasaran ingin segera sampai. Pasirnya yang putih bersih segera  menyambut kedatangan kita, ketika kita dengan sedikit susah turun dari perahu motor yang tidak bisa terlalu merapat ke pulau karena dermagaanya yang rusak, dangkal karena terurug pasir. Dengan berjalan perlahan kita dapat menyusuri  bibir pulau menuju obyek utama yakni sisa bangunan cagar budaya berupa Benteng Martelo yang masih mampu berdiri tegak di tengah pulau tersebut, meski mengalami kerusakan di berbagai bagian bangunan. Kondisinya memang cukup memprihatinkan meski sarat dengan nilai sejarah, yang tentu butuh biaya tinggi untuk menjaga kelestariannya. Beberapa upaya penyelamatan telah dilakkukan oleh Pemprov DKI Jakarta dengan perbaikan turap-turap pada bibir pulau, pembuatan perangkat pemecah ombak (untuk menghambat abrasi), perbaikan dermaga dll. Dari tanda-tanda kondisi fisik di lokasi, pulau ini memang termasuk jarang dikunjungi oleh masyarakat, dibandingkan 3 pulau yang lain di kawasan ini. Sisi lain yang menarik, bahwa pulau Kelor justru sering dimanfaatkan untuk menginap/bermukim sementara/kemah bagi para pemancing maupun mereka yang jenuh dngan hiruk pikuk kebisingan kota Jakarta, dan mengasingkan diri untuk beberapa waktu. Salah satu keunikan yang lain adalah keberadaan beberapa ekor Kucing yang hidup  di pulau Kelor. Beberapa ekor Kucing, ( 3 atau 4 ekor) berkeliaran dengan suara mengeong yang lemah dan lirih, kondisi badanya yang kurus-kurus dan terlihat kurang lincah. Entah siapa yang membawa pertama kali Kucing tersebut ke Pulau Kelor, dengan sengaja memelihara atau justru bermaksud membuang dari lokasi lain. Karena Kelor termasuk lokasi yang relatif terpencil, jarang ada kunjungan turis, kalaupun ada kunjungan pasti tidak menyiapkan makanan untuk para binatang penghuni pulau Kelor ini, dan tidak adanya penghuni tetap di pulau Kelor, maka hampir pasti sangatlah rawan kehidupan Kucing-Kucing malang tersebut. Konon satu-satunya andalan makan yang mungkin tersedia untuk Kucing tersebut adalah sisa-sisa makanan dari para pemancing yang kebetulan singgah kemah di Kelor. Semoga saja banyak pemancing yang sering berkunjung ke lokasi tersebut,( tentu dengan  membawa makanan ) dan bagi masyarakat yang bermaksud mengujungi pulau tersebut, jangan lupa membawa oleh-oleh untuk para penghuni Pulau Cagar Budaya bernama Kelor.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: